fbpx

“Dunia tak kan runtuh, meskipun kau hina  kami…”

Dulu, setiap waktu……

Panggil aku Kania, selalu habiskan setiap detiknya untuk memikirkan hinaan yang dilakukan suami terhadapku dan anak anak. Masalah dimulai ketika dia resmi diangkat menjadi seorang ASN, yang bertepatan ketika anak pertama kami lahir. Permasalahan di mulai ketika aku mengandung anak ke dua kami, ketika suamiku mulai sibuk dengan pekerjaannya sebagai ASN, dan sering ditugaskan keluar kota oleh kantornya. Aku bertahan karena aku hanya memikirkan masa depan anak anakku, hingga aku menjadi terbiasa dengan sifat kasar dan tempramen nya.

Ketika dia mengusirku dan anak dari rumah. Hanya karena aku meminta uang sekolah anak anak yang sudah tiga bulan belum dibayarkan, jangankan uang pembayaran sekolah, biaya hidup kami pun dia hanya memberikan sekedarnya, mungkin setara dengan gaji gaji seorang ART. Bukan aku tidak bersyukur kepada Tuhan, dengan gajinya sebagai seorang ASN, yang jelas jelas ada hak anak anakku disitu, namun dia mengabaikannya, dan tidak peduli dengan kebutuhan anak anaknya, jangankan kebutuhan sekolah, kebutuhan makan pun, tidak peduli, apakah anak anaknya bisa makan apa tidak. Menurut dia uang dua juta rupiah yang dia berikan kepadaku dan anak anak setiap bulannya itu sudah cukup besar, dan sisanya aku disuruh cari sendiri, karena menurut dia, anak anak adalah tanggung jawab aku juga untuk menafkahi mereka.

Tiga bulan sudah aku berada di rumah kakakku, dimana anak anakku sudah merasa nyaman dengan adanya kehadiran mereka, dan selama itu juga Bara tak sekali pun mengabari apalagi memberi nafkah kepada kami. Namun karena aku memikirkan masa depan anak anakku, aku kembali mengalah untuk mengikuti kemauannya untuk kembali pulang ke rumah kami. Dua tahun kemudian, aku mengandung anak ketiga, Dan aku tidak terkejut, dengan responnya ketika dia mengetahui bahwa aku hamil lagi. Lebih buruknya lagi, dia menuduhku selingkuh dengan laki laki lain, karena dia sering keluar kota, tapi tetap diam, bahkan dia tidak mengakui anak dalam perutku itu bukan anak dia.

Aku melahirkan anak kembar prematur, dan butuh transfusi darah dari bapaknya. Walaupun, Dokter sudah menjelaskan bahwa si kembar itu tidak mungkin anak dari orang lain, Tapi Bara tetap tidak peduli. Dengan Kekuatan Doa, aku tetap berusaha bersabar, merawat keempat anak anakku, dengan berselimut hinaan dan makian setiap harinya. Hingga suatu malam, dia kembali mengusirku dan anak anak.

Dan untuk kedua kalinya, aku kembali mengadu kepada kakakku, hingga dia menjemput kami, dan membawa aku dan anak anak ke luar kota. Seperti dulu, Bara sangat menikmati kehidupannya tanpa aku dan anak anak. Tanpa sedikitpun memikirkan anak anaknya. Apalagi keluarga kakakku sangat menyayangi dan memanjakan anak anakku.

Disaat aku dan anak anakku sudah pasrah tanpa hadirnya Bara, dia muncul mendadak dengan alibi rindu dengan anak anaknya. Dengan alasan itu, dia memintaku dan anak anak untuk kembali pulang ke rumah. Dengan keyakinan dan ingin memperjuangkan masa depan anak anakku, aku memutuskan untuk kembali mengalah, demi anak anak. Dengan anak empat orang yang sudah bersekolah semua, mungkin hanya mendapatkan biaya hidup 10% dari gajinya.

Sungguh miris nasib anak anakku, yang mempunyai bapak yang seorang pejabat di kantornya, Alhasil anak anakku seperti anak yang kekurangan dibandingkan dengan jabatan bapaknya yang seorang KASI. aku dipaksa untuk menggugat, dengan alasan yang sesuai dengan yang dia inginkan, dan jika aku tidak mengikuti kemauannya, dia pun mengancamku, tidak akan pernah untuk membiayai anak anak sepeserpun, dalam tekanan itu, aku terpaksa mengikuti kemauannya, Disamping itu juga, aku dilarang melaporkan perceraian kami ke kantornya dan dengan ancaman yang sama. Aku sudah resmi bercerai, tanpa gono gini, tanpa apapun, dan hanya biaya anak anak yang dia berikan dua juta rupiah perbulan, dan itupun setiap bulannya anakku yang perempuan harus mengemis ngemis plus menelan makian Bara untuk diriku. Sebenarnya aku tak tega melihat anakku mengemis ngemis kepadanya, tapi apa dayaku, bukannya aku tidak mau mencari kerja, jika aku bekerja, siapa yang akan urus anak anakku? sedangkan mereka masih kecil kecil.

Disisi lain, aku bersyukur, memiliki anak anak yang sehat dan mengerti kesulitan yang kami hadapi, mereka menjadi dewasa sebelum waktunya. Demi mencukupi kebutuhan anak anak, pelan pelan aku mencari tambahan dengan menjadi ojek langganan anak sekolah, itu juga karena belas kasihan tetangga tetanggaku yang iba melihat keadaan kami. Aku bangga dengan anak anakku, walaupun mereka tahu, bahwa bapaknya adalah seorang pejabat yang hidupnya mewah, tapi mereka tidak menuntut apapun kepada bapaknya, malah bahkan mereka selalu ceria walau terbungkus dengan kekurangan dan kesulitan kami. Tahun berjalan, Dion, anakku yang paling besar sudah menduduki bangku Sekolah menengah, dia sudah biasa bertugas di rumah, sepulangnya sekolah untuk menjaga adik adiknya yang kembar, sementara maisya anak keduaku, dengan sigap membantuku di Depot Es kekinian yang kini menjadi ladang penghasilan kami.

Hingga suatu hari Bara mendatangi maisya, setelah sekian tahun dia tidak pernah menemui anak anaknya, dia ingin mengajak anak anak untuk tinggal dengannya bersama perempuan selingkuhannya yang kini sudah menjadi istrinya.

Namun Maisya menolak dengan halus, bahwa dia dan adik adiknya sudah terbiasa dengan hidup kekurangan,, tapi penuh dengan kasih sayang seorang ibu yang siap berjuang dan selalu melindungi.

“ Sumber dari Kebahagiaan itu terletak di dalam hati “ karena sebanyak apapun uang yang kita miliki, uang tidak akan ternilai untuk membeli Kebahagiaan.”

By Fann

2 thoughts on “Saat Langit Membelai Rumput Yang Terinjak”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *